Saturday, December 8, 2012

Aktivitas Pengerjaan Beton

Aktivitas Pengerjaan Beton

Aktivitas Pengejaan Beton
Pada saat kita melakukan pekerjaan beton maka kita tidak hanya melakukan hanya pada satu titik kegiatan, tetapi terdiri dari beberapa kegiatan yang saling berhubungan yang harus di lakukan pada pekerjaan beton tersebut. Setiap aktivitas tersebut harus dikontrol agar hasilnya sesuai dengan yang direncanakan.

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa salah satu proses yang penting adalah perencanaan. Tentunya dituntut kerjasama yang baik antara pengelolah proyek, pemilik, dan konsultan dan perencana serta antara konsultan perencana, penasehat dan pelaksana.

Disamping dapat menterjemahkan keinginan pemiliki, pelaksana dan pengelolah proyek harus memahami ketentuan – ketentuan dari instansi pemerintah karena perencana beton harus memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Berdasarkan diatas, aktivitas utama pengerjaan beton terletak pada perencanaan yang dilakukan oleh konsultan perencana dan pengendalian mutu pada saat pelaksanaan yang dilakukan oleh kontraktor dibawah pengawasan konsultan perencanaan dan konsultan supervise. Pengerjaan beton dimulai jika telah ada penunjukan atau perintah kerja dari pemilik.

Kegiatan perencanaan beton di mulai dari quarry atau tempat penambangan sumber alam. Perencana harus mengambil contoh – contoh material yang akan digunakan, sesuai dengan ketentuan standar baku yang telah ditetapkan. Pengambilan contoh ini dilakukan secara acak ( random )  agar sifat – sifat bahan yang akan di uji terwakili. Contoh bahan uji ini kemudian dibawah ke laboratorium untuk di cek dan diuji.

Jika parameter besaran yang dimiliki masing – masing bahan tersebut telah sesuai dengan syarat yang diberikan (code standard) , bahan tersebut dapat di gunakan. Jika bahan yang diuji tidak meenuhi syarat, pelaksana harus mencari sumber bahan yang lainnya atau mencampur bahan yang mutunya kurang dengan bahan lainnya sehingga komposisi bahan yang dihasilkan sesuai dengan syarat yang ditentukan.

Setelah nilai masing – masing bahan tersebut diperoleh, perancangan beton ( mix design ) harus dilakukan. Perancangan beton sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dapat dilakukan dengan metode – metode yang dikenal.

Di Indonesia, pekerjaan – pekerjaan milik pemerintah harus menggunakan standar industry Indonesia namun telah direvisi dan dikembangkan menjadi Standar Nasional Indonesia ( SNI ). Standar perencanaan beton yang di pakai adalah (SNI T-15-1990-03).

Setelah perancangan beton selesai, perlu dilakukan pengujian lanjutan melalui pengujian campuran beton di laboratorium. Pengujian beton ini meliputi pengujian beton segar dan pengujian beton keras. Pengujian beton segar di maksudkan untuk mengetahui workability atau kemudahan dalam pengerjaannya. Indikator dari kemudahan dalam pengerjaan ini dapat dilihat dari nilai slump beton. Tujuan pengujian beton segar lainnya adalah untuk melihat apakah terjadi bleeding dan segregation atau tidak.

Pengujian beton keras terutama dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan tekan karakteristik dari beton tersebut (f’c). pengujian ini dilakukan dengan membuat benda uji berbentuk selinder yang pada umur tertentu diuji. Jika benda uji tersebut tidak lulus pada pengujian ini, harus dilakukan perancangan ulang campuran sampai didapatkan komposisi yang disyaratkan dalam spesifikasi teknik yang dibuat oleh pemilik.

Setelah pembuatan campuran di laboratorium selesai dilakukan, proses selanjutnya adalah membawa hasil komposisi mix design tersebut sebagai Job mix Formula (JMF) ke tempat pengolahan beton. Tempat pengolahan dapat berupa pengolahan yang menggunakan mesin Mixing biasa (molen) maupun pengolahan beton yang besar (concrete plant).

Selama masa pengolahan beton ini berjalan, proses pengawasan kualitas harus tetap dilakukan oleh kontraktor, di bawah pengawasan konsultan pengawas. Jika terjadi perubahan terhadap parameter bahan penyusun beton, pengujian laboratorium harus dilakukan lagi sebagai quality control bahan – bahan komposisi beton, yakni temoat pengecorannya. Selama masa pengangkutan, beton segar tersebut harus tetap di jaga agar tidak mengalami kehilangan Faktor Air Semen yang dapat menyebabkan menurunnya kekuatan tekan beton. Hal ini dilakukan agar beton yang di hasilkan sesuai dengan yang di inginkan.

Selama masa pelaksanaan pun proses control tidak boleh dihentikan. Pada masa ini, pelaksanaan pengecoran,pemadatan,perawatan, dan penyelesaian harus diawasi. Setelah beton mengeras dan berumur 28 hari, uji tekan untuk mengetahui kekuatannya harus dilakukan. Jika pengujian tersebut tidak dilakukan, dapat dilakukan tindakan lain sesuai denga syarat evaluasi beton keras.

Pengujian dapat dilakukan denga core drill dan load test atau dengan merancang ulang mekanikanya dengan menggunakanmutu beton aktuak (f’ca).

Demikianlah tulisan tentang Tahapan Pengerjaan Beton dilapangan yang harus dilalui. Semoga tulisan ini bermanfaat.


Sumber referensi : Teknologi Beton (Ir. Trimulyono, MT)


Anda Juga Bisa Membaca Artikel Lain Tentang Teknik Sipil :
 
 

No comments:

Post a Comment